Langsung ke konten utama

KURBAN



Oleh: Zamahsari Abdul Azis, S.Pd.I, M.Si

Alhamdulillah kito umat islam mengeti riyadin kurban, ingkang dipon awiti siyam sunat  kaleh dinten ingkang dipon wastani tarwiyah lan arofah, kados ingkang dipon dawuhakan dening kanjeng nabi

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التى قبله والسنة التى بعده

Siyam arofah saget nggosok dosa setahun kepengker ugi doso setahun ingkang bade dugi (HR.Muslim)

Saben tahun umat islam merayakan riyadin kurban wonten ing tanggal 10 dzulhijjah, dene dinten riyaden puniko minongko peringatan tumrap pengalaman ruhaninipon nabiyyullah Ibrohim AS, dene bentuk peringatan atas pengalaman ruhanini meniko ingkang langkung jangkep kagambarakaen wonten ing pelaksanaan ibadah  haji ingkang katindaake dening umat muslim sedoyo.

Sejarah wontenipon korban sejatose sampun dipon lampahi umat manungso wiwit awal peradaban manungso, bahkan wiwit generasi pertama putro-putro nipon nabi Adam umat manungso sampon mengenal nopo ingkang dipon wastni kurban. Ing pundi wonten zaman niku asring ingkang dipon dadosaken kurban mboten langkung awujud manungso ingkang dipon dadosaken sesajen utawi sesembahan dumateng pengeranipon utawi dewo nipon umat zaman niku. Kadosto wonten ing tanah Mesir, lare wadon ingkang anggadahi praupan paling ayu dipon korban aken dados sesembahan kagem dewi sungai nil, ugi wonten KANA AN IRAQ, bayi-bayi dipon dadosaken sesembahan kagem dewa BAAL, suku AZTEC wonten Meksiko ngagem jantung lan darahipon manungso kagem sesembahan dumateng dewa matahari.

Nabi Ibrahim gesang wonten ing abad ke 18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran tentang korban-korban yang masih berwujud manusia, disatu pihak ada yang mempertahankan di lain pihak ada yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia dan tinggi nilainya untuk dikorbankan kepada dzat yang disembah, disinilah ajaran yang dibawa oleh nabi Ibrahim menemukan relevasninya yakni memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak.

Mbok bileh kito telusuri, watawisipon perintah berkurban ugi printah nglaksanaake haji saking latar belakang tumurinipon perintah ngantos totocara pelaksasanaanipon, kulo panjenengan bakala bade menemukan simbolisasi ingkang indah lan agung tentang dimensi kemanusian utawi ukhuwah insaniyyah

Lumantar impen ingkang haq, nabiyyulloh Ibrohim nampi perintah saking Allah SWT supados mbelih keng putro isma’il, singkat cerito sakasampunipon ngaturaken menggah ingkang dados printah dateng keng putro nabi Isma’il ugi garwanipon Siti Hajar, nabi Ibrahim saget ngicalaken roso tresno dumateng anak, gantos kelawan roso ikhlas atas perintah ipon Allah swt, bahkan ing akhiripon nabi Ibrahim angsal ridlo saking Allah ingkang arupi mendo saking suwargo minongko gantosipon nabi Ismail.

Pengorbanan nabi Ibrahim ugi nabi Ismail kolowahu anggadahi makno ingkang luar biasa agung tumrap gesang kulo panjenengan sami, ing pundi kesediaan berkurban yang dilakukan nabi Ibrahim sejatinya bermuara pada bentuk atau perwujudan kepedulian sosial. Ing pundi wonten zaman kito abad modern niki kathah sanget nilai-nilai pengorbanan ingkang sampon dipon contoaken nabi Ibrahim meniko seringkali terlupakan. Masih banyak paraktik serta upaya sitematis yang mengarah kepada mengorbankan manusia walaupun untuk mencapai tujuan yang tidak luhur dan hanya semata-mata untuk memenuhi ambisi dan kekuasaan.

Peristiwa yang dialami nabi Ibrahim yang puncaknya dirayakan sebagai idul adha/hari raya kurban harus mampu mengingatkan bahwa yang dikorbankan tidak boleh manusia, tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia kadosto rakus, ambisius, mboten taat kaleh aturan lan ugi sifat-sifat hayawaniyyah lintunipon ingkang kedah dipon pejahi lan dipon dadoskaen kurban supados kulo panjenangan sami saget taqorrub, parek dateng Allah SWT. Meniko sesuai ingakang dipon dawuh aken Allah wonten ing surat al-hajj ayat 37

لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم

Daging ugi getih korban mboten bakal bade saget nggayuh ridlonipon Allah, ananging takwa siro kabeh seng bakal iso nggayuh ridlonipon Allah.

Baarokallahhu lii wa lakum

*) Penulis merupakan kepala sekolah SMA Islam Sunan Gunung Jati Pondok Ngunut.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Literasi Media Di Era Revolusi Informasi

  Oleh : Febrita Ardianingsih, S.IIP Perkembangan teknologi informasi di era revolusi informasi makin memasyarakat dan keberadaan internet menjadi begitu populer. Tak pelak, era revolusi informasi yang benar-benar masif, telah menyentuh kelompok dan lapisan sosial masyarakat manapun tanpa bisa dicegah. Saat ini, boleh dibilang bahkan tidak akan ada satupun dari institusi, orang, atau   pemerintahan yang tidak terkena dan tidak menanggung dampak dari perkembangan teknologi informasi. Dalam kehidupan sehari-hari, kehadiran konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan yang makin terbuka kepada khalayak untuk memilih informasi. Berbagai media massa dan teknologi informasi tergabung dalam satu paket perangkat gadget yang memudahkan pemiliknya berinteraksi dan mengakses berbagai informasi. Perkembangan media massa yang makin mengekspos informasi luar biasa beragam ke publik, telah membuka wawasan masyarakat dari informasi yang...

Sebelum Keluar Rumah

  (Sajak Nasehat Romo K.H M. Ali Shoddiq Umman) Oleh :  Muhammad Muhsin (Alumni 2013, Santri asal Salatiga)  * Mereka yang mengenakan keasingan adalah kekasih. Seperti lampu remang malam kota yang merindukan bayangan punggung merayap menggigil sebab kesendirian, mempertemukan sepi dan sendiri. Seperti rumah-rumah yang lebih gelap dari mimpi pemiliknya sebab kata-kata di atas meja makan tandas sebelum makan malam tuntas. Seperti bulan yang ditempeli banyak puisi. Tak pernah ada cuaca yang pasti di sini. * Segala yang tak ingin aku lihat hidup sebagai   nyalang binatang. Mesin ketik nenek terus melahirkan nasehat sepanjang tunggu. Hati-hati dengan binatang yang tak pernah tidur di sudut paling pekat hutan dada manusia. Sebab di sana aku akan mati dan tak pernah meninggalkan apa-apa kecuali undangan air mata dari seorang yang mati tersesat atas kecerobohan. Di luar rumah ini kecurigaan tumbuh meranggas dan ganas. * Ada kebencian...

Al-Qur’an dan Membaca

Oleh : Zamahsari Abdul Azis, S.Pd.I, M.Si. Nama Al-Qur'an yang secara harfiah berarti bacaan sempurna. Al-Qur’an merupakan pilihan Allah SWT yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal budaya tulis-baca, kurang lebih lima ribu tahun yang lalu, yang dapat menandingi Al -Qur'anul karim. Tiada bacaan semacam Al-Qur'an yang dibaca oleh ratusan juta orang, yang bahkan  tidak mengerti artinya dan tidak bisa menulis dengan aksaranya. Bahkan Al-Qur'an di hafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja,serta anak-anak. Tiada bacaan seperti Al-Qur'an yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya tetapi juga kandungan yang tersurat, kandungan yang tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, dari generasi ke generasi. Tiada bacaan sebanyak kosakata Al-Qur'an yang berjumlah 77.439 {tujuh puluh tuju ribu empat ratus tiga puluh sembilan} kata, dengan jum...