Langsung ke konten utama

Spirit Iqra': Tadarus Al-Qur'an

Oleh: Muhammad Fauzi Ridwan, S.Ag

Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar merdu dari setiap bilik-bilik musholla. Suara nyaring dari bocah-bocah TPQ yang sedang tadarus memikat Kliwon untuk menghampirinya. Saat itu sedang ramai-ramainya mereka bergiliran membaca menggunakan mikrofon. Sedang yang lainnya menyimak.

Shodaqoullohul'adzim, selesai tadarus Kliwon mengajak bocah-bocah TPQ itu mengobrol.

"Adek-adek aku perhatikan setiap hari tambah semangat tadarusnya, rahasianya apa?", Kliwon mengawali pembicaraan.

"Hehe... mas Kliwon bisa aja. Rahasianya cuma satu mas, manut dawuh e pak guru" jawab salah seorang dari mereka dengan polosnya.

"Emangya dawuh e pak guru gimana dek?", tanya Kliwon dengan penuh rasa penasaran.

"Pak guru dawuh, Yen kepengin ilmu ngaji Al-Quran ingkang sampeyan pelajari wonten TPQ mriki saget manfaat, Amalno! Ojo bubar tamat TPQ, Ngajine Al-Qur'an yo melu bubar. Ngaji iku terus sampek mati. Iling-ilingen ngaji iku saget ngresik i ati. Nek uripmu dirasakne panggah susah ae, iso ugo ngajimu sik kurang. Menawi sregep ngaji, atine dewe bakal e anteng lan wong tuo loro yo melu bungah."

Nasihat tersebut oleh mereka disimpan rapi dalam sebuah catatan kecil. Sewaktu-waktu mereka lupa, catatan tersebut dapat mengingatkan. Dijadikan pula cacatan tersebut pembatas baca dalam Al-Qur'an. Terlihat catatan itu sudah sampai pada akhir juz delapan di malam kedua ramadan. Jika demikian, selama bulan Ramadan mereka tidak hanya cukup khatam satu kali saja, namun telah berusaha berkali-kali.

***

Tiba-tiba Kliwon teringat akan sebuah kisah tentang keutamaan membaca Al-Qur'an. Al kisah ada seorang murid yang bertanya pada gurunya.

"Pak Guru, apa gunanya rutin membaca Al-Qur'an kalau tidak paham maknanya?"
Mendengar pertanyaan tersebut pak guru tersenyum. Kemudian si murid tadi disuruh mengisi jeding (kolam air) menggunakan tompo (wadah yang terbuat dari anyaman bambu).

"Ambillah air dari danau di seberang sana menggunakan tompo di gudang itu, isikan air tersebut pada jeding ini sampai penuh. Setelah itu baru pak Guru menjawab pertanyaanmu."

Bergegaslah si murid mengambil air tersebut. Namun karena alat yang digunakan terbuat dari anyaman bambu, airnya jadi berkurang setelah tiba di jeding. Air di tompo merembas jatuh dan berceceran di jalan yang dilewati si murid. Berkali-kali ia melakukannya hingga tugas tersebut selesai dan kemudian si murid menghadap pak guru lagi.

"Bagaimana nak?" tanya pak guru.

"Sudah selesai pak."

"Sini duduk dulu, sambil di minum kopinya".

Sruputtt... setelah minum kopi kemudian pak guru menjawab pertanyaan murid

"Begini, sekarang perhatikan tompo yang kamu ambil dari gudang itu. Sebelumnya tompo itu kotor, berkat sering kamu pakai mengambil air, sekarang menjadi bersih seperti baru. Seperti halnya sampeyan sering tadarus Al-Qur'an, maka hati sampeyan akan menjadi bersih. Meskipun air ditompo tak bisa memenuhi jeding secara langsung. Meskipun sampeyan belum mengerti maknanya." 

Iqra' itu ada tingkatkannya. Kalau sampeyan sudah lancar baca jilid, baru boleh dilanjutkan baca Al-Qur'an. Kalau sudah lancar baca Al-Qur'an, sedikit-sedikit mulai belajar isi kandungannya. Belajar itu ada tahapanya, jangan melopat (dilewati salah satunya). Dan yang terpenting belajar itu harus ada gurunya.

Selain itu perhatikan dimana airmu tadi jatuh. Berkatmu tanaman yang ada di jalan yang sering kamu lewati menjadi subur. Bunga dan daunnya terlihat segar. Seperti halnya sampeyan sering tadarus Al-Qur'an, orang-orang disekitar sampeyan menjadi bungah, terutama kedua orangtuamu.

Gubrak... suara pintu tertiup angin mengagetkan Kliwon hingga tersadar dari lamunannya. Tak terasa waktu sudah semakin larut dan bocah-bocah TPQ sudah lebih dahulu pulang. Meninggalkan Kliwon dalam kesendirianya memaknai pelajaran yang didapatkan hari ini.


*) Penulis adalah staf tata usaha di SMA Islam Sunan Gunung Jati Pondok Ngunut

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Literasi Media Di Era Revolusi Informasi

  Oleh : Febrita Ardianingsih, S.IIP Perkembangan teknologi informasi di era revolusi informasi makin memasyarakat dan keberadaan internet menjadi begitu populer. Tak pelak, era revolusi informasi yang benar-benar masif, telah menyentuh kelompok dan lapisan sosial masyarakat manapun tanpa bisa dicegah. Saat ini, boleh dibilang bahkan tidak akan ada satupun dari institusi, orang, atau   pemerintahan yang tidak terkena dan tidak menanggung dampak dari perkembangan teknologi informasi. Dalam kehidupan sehari-hari, kehadiran konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan yang makin terbuka kepada khalayak untuk memilih informasi. Berbagai media massa dan teknologi informasi tergabung dalam satu paket perangkat gadget yang memudahkan pemiliknya berinteraksi dan mengakses berbagai informasi. Perkembangan media massa yang makin mengekspos informasi luar biasa beragam ke publik, telah membuka wawasan masyarakat dari informasi yang...

Sebelum Keluar Rumah

  (Sajak Nasehat Romo K.H M. Ali Shoddiq Umman) Oleh :  Muhammad Muhsin (Alumni 2013, Santri asal Salatiga)  * Mereka yang mengenakan keasingan adalah kekasih. Seperti lampu remang malam kota yang merindukan bayangan punggung merayap menggigil sebab kesendirian, mempertemukan sepi dan sendiri. Seperti rumah-rumah yang lebih gelap dari mimpi pemiliknya sebab kata-kata di atas meja makan tandas sebelum makan malam tuntas. Seperti bulan yang ditempeli banyak puisi. Tak pernah ada cuaca yang pasti di sini. * Segala yang tak ingin aku lihat hidup sebagai   nyalang binatang. Mesin ketik nenek terus melahirkan nasehat sepanjang tunggu. Hati-hati dengan binatang yang tak pernah tidur di sudut paling pekat hutan dada manusia. Sebab di sana aku akan mati dan tak pernah meninggalkan apa-apa kecuali undangan air mata dari seorang yang mati tersesat atas kecerobohan. Di luar rumah ini kecurigaan tumbuh meranggas dan ganas. * Ada kebencian...

Al-Qur’an dan Membaca

Oleh : Zamahsari Abdul Azis, S.Pd.I, M.Si. Nama Al-Qur'an yang secara harfiah berarti bacaan sempurna. Al-Qur’an merupakan pilihan Allah SWT yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal budaya tulis-baca, kurang lebih lima ribu tahun yang lalu, yang dapat menandingi Al -Qur'anul karim. Tiada bacaan semacam Al-Qur'an yang dibaca oleh ratusan juta orang, yang bahkan  tidak mengerti artinya dan tidak bisa menulis dengan aksaranya. Bahkan Al-Qur'an di hafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja,serta anak-anak. Tiada bacaan seperti Al-Qur'an yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya tetapi juga kandungan yang tersurat, kandungan yang tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, dari generasi ke generasi. Tiada bacaan sebanyak kosakata Al-Qur'an yang berjumlah 77.439 {tujuh puluh tuju ribu empat ratus tiga puluh sembilan} kata, dengan jum...