Langsung ke konten utama

Al-Qur’an dan Membaca

Oleh : Zamahsari Abdul Azis, S.Pd.I, M.Si.

Nama Al-Qur'an yang secara harfiah berarti bacaan sempurna. Al-Qur’an merupakan pilihan Allah SWT yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal budaya tulis-baca, kurang lebih lima ribu tahun yang lalu, yang dapat menandingi Al-Qur'anul karim.

Tiada bacaan semacam Al-Qur'an yang dibaca oleh ratusan juta orang, yang bahkan  tidak mengerti artinya dan tidak bisa menulis dengan aksaranya. Bahkan Al-Qur'an di hafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja,serta anak-anak.

Tiada bacaan seperti Al-Qur'an yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya tetapi juga kandungan yang tersurat, kandungan yang tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, dari generasi ke generasi.

Tiada bacaan sebanyak kosakata Al-Qur'an yang berjumlah 77.439 {tujuh puluh tuju ribu empat ratus tiga puluh sembilan} kata, dengan jumlah huruf 323.015 {tiga ratus dua puluh tiga ribu lima belas} huruf , yang seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata serta kata dan  dampaknya.

Sebagai contoh, kata hayat terulang sebanyak antonimnya maut, masing-masing terulang 145 kali; kata akhirat terulang 115 kali setara dengan kata dunia, kata malaikat  terulang 88 kali sebanyak kata syaiton. Kata infaq terulang sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yiatu ridlo yang bermakna “kepuasan”, Masing-masing terulang 73 kali, kata kikir berjumlah sama dengan akibatnya yaitu penyesalan masing-masing terulang 12 kali, kata zakat terulang sama dengan berkat yang bermakana kebajikan yang melimpah, yakni 32 kali, dan masih banyak keseimbangn-keseimbangan lain, seperti kata yaum yang bermakna hari terulang sebanyak 365 kali sejumlah bilangn hari dalam setahun, kata syahrun yang bermakana bulan terulang 12 kali, sejumlah bilangan bulan dalam setahun. 

Kesemuanya itu selaras dengan firman Allah
الله الذي أنزل الكـتاب بالحق والميزان

"Allah menurunkan kitab alquran dengan penuh kebenaran dan keseimbangan”


Ayat alquran yang pertama kali diturukan kepada nabi muhammad adalah / perintah membaca, mengapa iqra’ merupakan printah pertama yang ditujukan kepada nabi, padahal beliau adalah seorang ummi atau seorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun sehinga tidak selalu harus di artikan membaca teks tertulis dengan aksara tertentu, dari kata menghimpun ini lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Sehingga iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, bacalah alam, bacalah tanda tanda zaman, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, alhasil objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat di jangkaunya.

Sungguh perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. Membaca dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama dalam pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang bertahan lama justru dimulai dari adanya suatu kitab atau bacaan. Peradaban yunani dimulai dengan iliad karya homer pada abad ke 9 sebelum masehi, ia berakhir dengan hadirnya perjanjian baru. Peradaban eropa dimulai dengan karya Newton dan berakhir dengan tumbuhnya filsafat hegel, dan peradaban islam lahir dengan kehadiran alquran yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, melalui malaikat jibril. Dan kita yakin bahwa peradaban islam ini tidak akan lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan, selama umatnya ikut bersama allah untuk memeliharanya.

إن نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

Sesungguhnya kami yang menurukan Al-Qur'an dan kamilah pemelihara-pemeliharanya. 

Dua puluh dua tahun dua bulan dan dua puluh dua hari lamanya, ayat-ayat Al-Qur'an silih berganti turun dan selama itu pula nabi Muhammad SAW dan para sahabat tekun mengajarkan Al-Qur'an dan membimbing umatnya sehingga berhasil membangun masyarakat yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah lindungan ridlo dan ampunan ilahi.

Barangkali kita dapat bertanya mengapa perlu waktu dua puluh tahun lebih, baru selesai dan berhasil ? bisa jadi hasil penelitian dari seorang guru besar iniversitas Harvard dapat menjadi jawabannya, ia melakukan penelitian pada 40 negera berbeda untuk mengetahui factor kemajuan dan kemunduran Negara-negara itu. Menurut penelitian tersebut factor kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa salah satu factor utamanya adalah materi bacaan dan sajian yang disuguhkan khususnya kepada generasi muda, yang dampak dari bacaan-bacaan yang disajikan tersebut akan nampak 20 tahun kemudian ketika generasi mudanya sudah berperan dalam berbagai macam aktivitas dan mewarnai peranan di negera tersebut, demikian dampak dari sebuah bacaan sama dengan lama turunnya Al-Qur’an. 

Dengan demikian jangan menunggu dampak bacaan terhadap anak-anak kita kecuali 20 tahun kemudian. Untuk itu marilah sejak dini kita bangun budaya Qur’ani di lingkungan kita, sehingga kelak di masa mendatang bangsa kita menjadi bangsa yang besar yang ber akhlaq Qur’ani.

*) Penulis adalah Kepala Sekolah SMA Islam Sunan Gunung Jati Pondok Ngunut. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Literasi Media Di Era Revolusi Informasi

  Oleh : Febrita Ardianingsih, S.IIP Perkembangan teknologi informasi di era revolusi informasi makin memasyarakat dan keberadaan internet menjadi begitu populer. Tak pelak, era revolusi informasi yang benar-benar masif, telah menyentuh kelompok dan lapisan sosial masyarakat manapun tanpa bisa dicegah. Saat ini, boleh dibilang bahkan tidak akan ada satupun dari institusi, orang, atau   pemerintahan yang tidak terkena dan tidak menanggung dampak dari perkembangan teknologi informasi. Dalam kehidupan sehari-hari, kehadiran konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan yang makin terbuka kepada khalayak untuk memilih informasi. Berbagai media massa dan teknologi informasi tergabung dalam satu paket perangkat gadget yang memudahkan pemiliknya berinteraksi dan mengakses berbagai informasi. Perkembangan media massa yang makin mengekspos informasi luar biasa beragam ke publik, telah membuka wawasan masyarakat dari informasi yang...

Sebelum Keluar Rumah

  (Sajak Nasehat Romo K.H M. Ali Shoddiq Umman) Oleh :  Muhammad Muhsin (Alumni 2013, Santri asal Salatiga)  * Mereka yang mengenakan keasingan adalah kekasih. Seperti lampu remang malam kota yang merindukan bayangan punggung merayap menggigil sebab kesendirian, mempertemukan sepi dan sendiri. Seperti rumah-rumah yang lebih gelap dari mimpi pemiliknya sebab kata-kata di atas meja makan tandas sebelum makan malam tuntas. Seperti bulan yang ditempeli banyak puisi. Tak pernah ada cuaca yang pasti di sini. * Segala yang tak ingin aku lihat hidup sebagai   nyalang binatang. Mesin ketik nenek terus melahirkan nasehat sepanjang tunggu. Hati-hati dengan binatang yang tak pernah tidur di sudut paling pekat hutan dada manusia. Sebab di sana aku akan mati dan tak pernah meninggalkan apa-apa kecuali undangan air mata dari seorang yang mati tersesat atas kecerobohan. Di luar rumah ini kecurigaan tumbuh meranggas dan ganas. * Ada kebencian...